Jumat, 16 Februari 2018

Analisis kurikulum MI terhadap psikologi perkembangan

Assalamu’alaikum man-teman.... J
Keep fighting! Okee..?
Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi ilmu tentang “Analisis Buku Ajar Pendidikan Agama Islam  terhadap Psikologi Perkembangan Kelas 1 Semester 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu Tlogowungu Tahun 2017”.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.. J
______________________________________________

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

            Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur’an dan Hadits. Menurut Ditbinpaisun pendidikan agama islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap peserta didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan  dapat memahami apa yang terkandung dalam islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuan yang pada akhirnya mengamalkannya. Kegiatannya dilakukan melalui keteladanan, bimbingan, pengajaran, latihan, pembinaan dan pembiasaan, serta penggunaan pengalaman. Tidak hanya secara lisan, namun dibuktikan dalam bentuk buku ajar yang mana orang tua dapat ikut serta membimbing anak ketika belajar di rumah. Buku ajar tersebut memiliki kurikulum yang terdiri dari standar kompetensi dan kompetensi dasar. Selain itu, psikologi perkembangan anak juga berpengaruh dalam hal belajar.
            Kemudian, Penulis mencoba menganalisis apakah kurikulum tersebut sesuai dengan psikologi perkembangan anak atau tidak. Selanjutnya, Penulis juga mencantumkan teori belajar apakah yang sesuai dengan peserta didik SDIT kelas 1, kekurangan-kekurangan apakah yang ada dalam buku ajar tersebut sehingga di tahun yang akan datang dapat memilihkan buku yang menarik untuk peserta didik. Dengan begitu, seorang guru dapat dengan mudah melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan tentunya peserta didik lebih enjoy dan merasa senang ketika belajar.



B.     Rumusan masalah

1.      Apakah tujuan disusunnya Buku Ajar Pendidikan Agama Islam?
2.      Kurikulum apakah yang digunakan SDIT Tlogowungu kelas 1  dan bagaimana bunyi dari standar kompetensi dan kompetensi dasar?
3.      Apakah kurikulum tersebut sesuai dengan psikologi perkembangan anak?
4.      Metode belajar yang seperti apakah yang sesuai dengan peserta didik?
5.      Adakah kekurangan-kekurangan di dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam?






PEMBAHASAN

1.      Tujuan disusunnya Buku Ajar Pendidikan Agama Islam.

            Pada lampiran kata pengantar, penyusun Buku Ajar Pendidikan Agama Islam untuk kelas 1 SDIT menyebutkan bahwa tujuan disusunnya buku tersebut adalah
Ø Sebagai pendamping buku materi yang dilengkapi BTA (Baca Tulis Al-Quran) untuk Sekolah Dasar.
Ø Membantu siswa lebih mengenal ajaran agama islam.
Ø Membantu siswa agar lebih mudah membaca dan mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.
        Buku tersebut disusun oleh Sukbi Ishak, S.Pd.I, Badrudin, S.Pd.I, Sandeli, S.Pd.I, Sri Sulistyaningsih, S.Pd.I, Muhammad, S.Pd.I.

2.      Kurikulum.
                                               
            Kurikulum yang disesuaikan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) . Dalam buku tersebut terdapat 5 bab yang terdiri dari surah al-fatihah, rukun iman, perilaku terpuji, tata cara bersuci, dan rukun islam.
NO
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Nilai Karakter Bangsa
1
Menghafal Al-Quran surah pendek pilihan.
1.1.Melafalkan surah al-fatihah dengan lancar.
1.2.Menghafal surah al-fatihah dengan lancar.
Dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, tekun, tanggung jawab, berani, ketulusan, integritas, peduli, dan jujur.
2
Mengenal rukun iman.
1.3.Menunjukkan ciptaan Allah SWT melalui ciptaan-Nya.
1.4.   Menyebutkan enam rukun iman.
1.5.   Menghafal enam rukun iman.
Dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, tekun, tanggung jawab, berani, ketulusan, integritas, peduli, dan jujur.
3
Membiasakan perilaku terpuji.
1.6.Membiasakan perilaku jujur.
1.7.Membiasakan perilaku bertanggungjawab.
1.8.Membiasakan perilaku hidup bersih.
1.9.Membiasakan perilaku disiplin.
Dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, tekun, tanggung jawab, berani, ketulusan, integritas, peduli, dan jujur.
4
Mengenal tata cara bersuci (taharah)
1.10.    Menyebutkan pengertian bersuci.
1.11.    Mencontoh tata cara bersuci.
Dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, tekun, tanggung jawab, berani, ketulusan, integritas, peduli, dan jujur.
5
Mengenal rukun islam
1.12.    Menirukan ucapan rukun islam.
1.13.    Menghafal rukun islam.
Dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, tekun, tanggung jawab, berani, ketulusan, integritas, peduli, dan jujur.

3.      Hubungan kurikulum terhadap psikologi perkembangan anak.
            Psikologi perkembangan anak SD/MI pada umumnya adalah
Ø Masalah kesehatan dan gizi. Semakin bertambahnya tahun, para anak memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan pada anak zaman dahulu, meskipun masih ada saja anak yang tidak terurus. Para orang tua pun rela untuk melakukan apa saja asalkan kondisi anak tetap sehat dan gizi terpenuhi. Jika masalah kesehatan dan gizi anak terpenuhi, maka dalam proses belajar akan mudah diterima oleh anak.
Ø Keluarga. Jika keluarga selalu mendukung si anak dalam belajar, maka anak pun akan semangat belajar meskipun terdapat kendala-kendala ketika sedang belajar.
Ø Anak SD/MI cenderung suka untuk bermain, terutama kelas 1. Menurut Jean Piaget, semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin kompleks susunan sel saraf  dan meningkat pula kemampuannya dalam aspek kognitif, termasuk juga dalam belajar bahasa. Kemudian, belajar akan lebih berhasil jika disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Menanggapi hal ini, maka guru harus memiliki kreatifitas dalam hal mengajar supaya anak tidak merasa bosan untuk belajar, karena pada usia 7 tahun anak masih suka bermain. Piaget melihat bahwa permainan adalah aktivitas yang dibatasi oleh dan medium yang mendorong perkembangan kognitif anak. Bermain memungkinkan anak mempraktikkan kompetensi dan keahlian mereka dengan cara yang rileks dan menyenangkan. Piaget percaya bahwa struktur kognitif perlu dilatih dan permainan adalah latar yang sempurna bagi latihan ini.[1]
        Analisis kurikulum :
Ø Melafalkan dan menghafalkan surah al fatihah. Dalam hal ini, kurikulumnya sudah tepat, meskipun di TPQ sudah diajarkan, tetapi ini untuk me-review kembali dan ini merupakan pendidikan wajib yang dicetuskan oleh pemerintah. Surah Al-Fatihah merupakan induk dari semua isi Al-Quran dan kurikulum tersebut diletakkan di SD/MI kelas 1 semester 1. Akan terasa lucu jika surah yang dikenalkan pertama kali adalah An-Nas. Jadi, memang seharusnya peserta didik dikenalkan,  dibimbing supaya cara membacanya benar dan harus menghafalkan surah al-fatihah.
Ø Mengenal rukun iman dengan cara menunjukkan ciptaan Allah melalui ciptaan-Nya, menyebutkan enam rukun iman, menghafal rukun iman. Dalam hal ini, kurikulumnya sudah tepat. Memang seharusnya, anak dikenalkan apa itu rukun iman dan komponen-komponennya. Dengan begitu, anak akan berpikir dan bisa membedakan mana ciptaan Allah dan mana ciptaan manusia, selain itu dengan menyebutkan rukun iman maka anak akan beriman, dan takut jika berbuat dosa karena adanya hari kiamat. Ini membawa dampak positif.
Ø Membiasakan perilaku terpuji dengan cara membiasakan perilaku bertanggungjawab, membiasakan perilaku hidup bersih, membiasakan perilaku disiplin. Dalam hal ini, kurikulumnya sudah tepat. Jika anak dikenalkan dan dibiasakan berperilaku terpuji, Insya Allah akan menjadi kebiasaan sampai tua.
Ø Mengenal tata cara bersuci (taharah) dengan cara menyebutkan pengertian bersuci, mencontoh tata cara bersuci. Dalam hal ini, kurikulumnya sudah tepat. Karena anak memang harus tahu bahwa ketika akan sholat harus dalam keadaan suci.
Ø Mengenal rukun islam dengan cara menirukan ucapan rukun islam, dan menghafal rukun islam. Dalam hal ini, kurikulumnya sudah tepat.
                        Dapat disimpulkan bahwa
-       Apabila psikologi perkembangan peserta didik baik, maka hubungannya dengan kurikulum tidak ada masalah, karena menurut Penulis bahwa kurikulum di atas sudah tepat, karena memang materi yang didapat oleh anak SD/MI adalah materi-materi dasar.

4.      Metode belajar yang sesuai dengan peserta didik SDIT.
            Saya sebagai Penulis memilih teori belajar kognitivisme untuk peserta didik SDIT. Berikut alasannya : banyak para ahli dan pemikir pendidikan yang kurang puas terhadap ungkapan para behavioris bahwa belajar sekedar hubungan antara stimulus (apa saja yang diberikan guru kepada siswa) dan respon (reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru). Jadi, dalam teori ini peserta didik adalah pasif. Lalu bagaimana bisa berkembang jika sejak menempuh pendidikan awal peserta didik hanya pasif. Maka dari itu, Penulis memilih teori kognitivistik.
            Kognitif diartikan sebagai potensi intelektual yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Jadi, teori belajar kognitivistik lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Sehingga, apa yang diperoleh peserta didik masih tersimpan di dalam memori meskipun waktu terus berjalan (tidak sia-sia).
            Dalam teori kognitivisme ini tidak semata-mata guru menyuruh peserta didik untuk berpikir sendiri, hanya saja peserta didik diharapkan untuk aktif. Yang harus dilakukan oleh guru adalah
  Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, guru dalam mengajar harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.
  Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak supaya dapat berinteraksi dengan lingkungan.
  Memberi peluang agar anak belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk salimg berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.

5.      Kekurangan-kekurangan di dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam.
     Menurut Penulis, terdapat kekurangan dalam buku tersebut :
Ø         Di dalam buku tidak dituliskan kota terbit, nama penerbit, dan tahun pembuatan.
Ø         Suasana buku tersebut kurang menarik perhatian peserta didik. Ditahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget yaitu Tahap pra-operasional (2-7 tahun ) : Pada tahap ini, anak-anak mulai merepresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan, dan gambar, keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukan atas dasar analisis rasional (kesimpulan yang diambil merupakan kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar...[2]
        Seharusnya dalam buku tersebut terdapat gambar berwarna dan dibuatkan peta konsep yang bagus sehingga anak tidak bosan ketika belajar, karena pada dasarnya anak kelas 1 masih suka bermain.










PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Hubungan buku Ajar Pendidikan Agama Islam  terhadap Psikologi Perkembangan Kelas 1 Semester 1 Sekolah Dasar Islam Terpadu Tlogowungu Tahun 2017 sudah tepat dan tidak menyimpang.
2.      Metode belajar yang sesuai dengan peserta didik SDIT Tlogowungu adalah teori belajar kognitivisme. Kognitif diartikan sebagai potensi intelektual yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Jadi, teori belajar kognitivistik lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Sehingga, apa yang diperoleh peserta didik masih tersimpan di dalam memori meskipun waktu terus berjalan (tidak sia-sia).
3.      Kekurangan dalam buku ajar Pendidikan Agama Islam adalah Suasana buku tersebut kurang menarik perhatian peserta didik. Ditahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget yaitu Tahap pra-operasional (2-7 tahun ) : Pada tahap ini, anak-anak mulai merepresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan, dan gambar, keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukan atas dasar analisis rasional. Seharusnya dalam buku tersebut terdapat gambar berwarna dan dibuatkan peta konsep yang bagus sehingga anak tidak bosan ketika belajar, karena pada dasarnya anak kelas 1 masih suka bermain.




DAFTAR PUSTAKA

JOHN W. SANTROCK. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.
Asri Budiningsih. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Rinika Cipta.



[1] JOHN W. SANTROCK, Perkembangan Anak, (Jakarta : Erlangga, 2007), hlm. 217.
[2] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta : Rinika Cipta, 2004), hlm.38-39.

Vokal, Konsonan, dan Diftong

Assalamu’alaikum man-teman.... J
Keep fighting! Okee..?
Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi ilmu tentang Vokal, konsonan, dan diftong.
Selamat membaca.. J
_________________________________________________
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
            Berbicara tentang fonologi berarti kita sedang berbicara tentang bunyi bahasa, karena objek kajian dari ilmu al-ashwat adalah bunyi dan perihal yang bersangkutan dengannya.
Bunyi sendiri pada mulanya diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu bunyi vokal dan konsonan. Perbedaan dari keduanya dapat kita cermati dari proses fonasinya dimana bunyi vokal terjadi tatkala udara dari paru-paru dengan pita suara sedikit terbuka lalu udara tersebut keluar tanpa adanya hambatan, sedangkan konsonan mendapat hambatan dan kondisi pita suara terkadang terbuka agak lebar.[1]
            Dalam perkembangan selanjutnya ternyata didalam bahasa juga ada satu bunyi yang tersusun dari dua vokal sekaligus, bunyi ini dalam kajian fonologi disebut dengan nama diftong. Diftong sendiri bukanlah konsonan ataupun vokal, melainkan ia merupakan semi vokal yang terdiri dari dua vokal akan tetapi menghasilkan satu bunyi. Dari kedua vokalan itu diftong diklasifikasikan menjadi diftong naik dan turun. Dalam bahasa Arab kajian tentang diftong hanya ada dua bentuk yaitu ya’ sukun atau wau sukun yang didahului fathah, keduanya masuk dalam diftong naik. Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana proses artikulasi diftong tersebut. Hal ini menarik karena ia mengandung dua macam vokal sekaligus. Lalu kita sebagai mahasiswa pendidikan bahasa Arab bertanya-tanya, seperti apakah diftong dalam bahasa Arab?[2]



B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian diftong bahasa Arab?
2.      Apa saja macam-macam diftong bahasa Arab?
3.      Bagaimana proses artikulasi diftong  Arab?











PEMBAHASAN

1.      Diftong
            Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu, atau disebut juga sebagai gabungan bunyi dalam satu suku kata.[3] Dalam diftong, posisi lidah ketika memproduksi bunyi, pada bagian awal dan bagian akhir tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah, dan strikturnya. Namun bunyi yang dihasilkan bukan dua bunyi melainkan satu bunyi karena berada dalam satu silabel.[4] Contoh diftong dalam bahasa Arab adalah [أو], seperti terdapat dalam kata اليوم.[5] Contoh lain adalah bunyi [اي] seperti terdapat dalam kata أين.

2.      Macam – macam diftong bahasa Arab
            Diftong juga dikenal dengan istilah vokal rangkap karena ia terdiri dari dua vokal akan tetapi membentuk satu bunyi karena bunyi tersebut berada dalam satu silabel. Karena terdiri dari dua vokal itulah nantinya kita bisa membuat pengklasifikasian diftong. Dari sana kita akan dapatkan macam-macam diftong nantinya.
            Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya.[6] Yang dimaksud unsur-unsur tersebut ialah dua vokal yang menyusun suatu diftong itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud letak atau posisi disini adalah tinggi rendahnya suatu vokal.
            Selanjutnya diftong dibagi menjadi diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi kedua, sebaliknya disebut diftong turun apabila bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.
            Melihat pembagian diftong dalam bahasa Arab menurut imam Jizri yaitu apabila ada ya sukun yang didahului fathah /ai/ dan  wawu sukun yang didahului fathah /au/ maka bahasa Arab hanya mengenal diftong naik.

3.      Proses artikulasi diftong  Arab
1. Waw (و)
        Untuk memproduksi semivokal ini, organ bicara mengambil posisi seperti akan menuturkan sebuah vokal (u), tetapi dalam waktu yang sangat cepat organ bicara tersebut mengubah posisi seolah-olah hendak menuturkan sebuah vokal lain (a).
        Kedua bibir membulat untuk memodifikasi arus udara yang datang dari paru-paru, tetapi tidak sampai menghambat arus udara secara kuat.
     Pita suara berada dalam posisi berdekatan sehingga terjadi getaran ketika udara melewati areal ini. Saluran udara ke rongga hidung tertutup sehingga semua udara keluar dari rongga mulut. Oleh karena itu, semivokal ini di deskripsikan dengan: /bilabial/semivokal/bersuara/.
        Sebagian ulama mengatakan bahwa organ bicara yang bekerja sama menghambat udara yang datang dari paru-paru adalah pangkal lidah naik ke langit-langit lunak, mirip seperti menuturkan kha, ghain, kaf. Oleh sebab itu, semivokal ini dideskripsikan dengan: /darsovelar/semivokal/bersuara/.
2. Ya’ (ي)
            Untuk memproduk semivokal ini, organ bicara mengambil posisi seperti akan menuturkan sebuah vokal (i). Tetapi dalam waktu yang sangat cepat organ bicara tersebut mengubah posisi seolah-olah hendak menuturkan sebuah vokal lain (a).
        Tengah lidah bekerja sama dengan langit-langit untuk menghambat arus udara yang datang dari paru-paru, tetapi hambatan tersebut tidak kuat sehingga arus udara bisa keluar dengan leluasa di daerah ini.
        Kedua bibir membentang untuk memodifikasi arus udara yang datang dari paru-paru, sedangkan pita suara berada dalam posisi berdekatan sehingga terjadi getaran ketika udara melewati areal ini. Saluran udara ke rongga hidung tertutup sehingga semua udara keluar dari rongga mulut. Oleh karena itu, semivokal ini di deskripsikan dengan: /mediopalatal/semivokal/bersuara/.[7]























PENUTUP


A.    Kesimpulan
1. Diftong adalah gabungan bunyi dalam satu suku kata.  Dalam diftong, posisi lidah ketika memproduksi bunyi, pada bagian awal dan bagian akhir tidak sama.
2. Di dalam bahasa Arab hanya ada dua bunyi diftong yaitu /au/ dan /ai/ yang keduanya termasuk dalam diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dibandingkan dengan bunyi yang kedua.
3. Artikulasi diftong waw ialah organ bicara mengambil posisi seperti   akan menuturkan sebuah vokal (u), tetapi dalam waktu yang sangat cepat organ bicara tersebut mengubah posisi seolah-olah hendak menuturkan sebuah vokal lain (a).
4. Artikulasi diftong ya’ ialah organ bicara mengambil posisi seperti akan menuturkan sebuah vokal (i). Tetapi dalam waktu yang sangat cepat organ bicara tersebut mengubah posisi seolah-olah hendak menuturkan sebuah vokal lain (a).












DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. 2012. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
http://ciptakemenanagan.blogspot.co.id/2015/09/diftong-bahasa-arab.html pada 5 November 2017 pukul 13.17 WIB.
Ainia Prihantini. 2015. MASTER BAHASA INDONESIA.Yogyakarta: Penerbit B First.
Moch. Syarif Hidayatullah, dan Abdullah. 2010. Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Klasik Modern). Jakarta : UIN Syarif hidayatullah.





[1] Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2012), hlm. 113.
[2] Abdul Cholik, DIFTONG BAHASA ARAB, diakses dari http://ciptakemenanagan.blogspot.co.id/2015/09/diftong-bahasa-arab.html pada 5 November 2017 pukul 13.17 WIB.
[3] Ainia Prihantini, MASTER BAHASA INDONESIA, (Yogyakarta : Penerbit B First, 2015), hlm.12.
[4] Abdul Chaer, Linguistik..., (Jakarta : Rineka Cipta, 2012), hlm. 115.
[5] Moch. Syarif Hidayatullah, dan Abdullah, Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Klasik Modern), (Jakarta:      UIN Syarif hidayatullah, 2010), hlm.42.
[6] Abdul Chair, Linguistik..., (Jakarta : Rineka Cipta, 2012), hlm.115.
[7] Ahmad Sayuthi Anshori Nasution,  Bunyi Bahasa: ilm al aswat al arabi, (Jakarta: Grafika Ofset, 2010), hlm. 108.

Membaca dalam psikolinguistik

Assalamu’alaikum man-teman.... J
Keep fighting! Okee..?
Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi ilmu tentang Membaca dalam Psikolinguistik.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.. J
______________________________________________
PENDAHULUAN
                                                                                                   
A.    Latar belakang
            Di samping kemampuan untuk berbahasa, manusia juga mempunyai kemampuan lain yang spesifik : membaca. Manusia dapat menuangkan apa yang ada dalam pikirannya pada secarik kertas dan kemudian disimpan untuk sehari, sebulan, setahun, atau bahkan lebih dari itu. Bahan dalam tulisan ini dimengerti oleh siapa pun yang membacanya selama mereka memakai bahasa yang sama. Meskipun untuk tujuan yang berbeda, apa yang dikatakan oleh Carnie (2002 : 3) berikut sangat mengena :
            ...there is some set of neurons in my head firing madly away that allows me to sit here and produce this set of letters, and there is some other set of neurons in your head firing away that allows you to translate these squiggles into coherent ideas and thoughts.
            Tidak ada makhluk lain di dunia ini yang dapat berkomunikasi dengan simbol-simbol seperti ini! Namun, berbeda dengan kemampuan berujar, kemampuan membaca bukanlah sesuatu yang kodrati.[1] Tetapi bagaimanapun itu, membaca merupakan suatu keterampilan yang harus diajarkan oleh orang tua atau orang dewasa dan dipelajari oleh anak.

B.     Rumusan masalah
1.         Bagaimana sejarah tulisan?
2.         Apa pengertian grafem dan fonem?
3.         Apa saja elemen pada huruf?
4.         Apa saja tahap-tahap dalam membaca?
5.         Bagaimana metode pengajaran membaca?
6.         Apa saja model-model dalam membaca?




















PEMBAHASAN

1.      Sejarah tulisan.
            Sejarah mengenai tulisan dapat ditelusuri ke tahun 3100 sebelum Masehi pada bangasa Sumeria yang hidup di Mesopotamia purba di antara sungai Tigris dan Euphrates (Wolf dkk dalam Gleason dan Ratner 1998 : 410). Pada saat itu orang belum memakai tanda atau huruf seperti yang kita pakai sekarang. Mereka memakai apa yang dinamakan cuneiform, yakni gambar-gambar yang melambangkan benda atau konsep. Piktograf ini digoreskan pada tanah liat kemudian tanah liat ini dibakar sehingga goresan-goresan tadi menjadi permanen.[2]
Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Hasil gambar untuk sejarah tulisan CUNEIFORM
            Pada tahun 2000 S.M bangsa Cina mengembangkan ideogram, yaitu gambar-gambar yang menyimbolkan objek. Ideogram ini kemudian berkembang menjadi logogram, yaitu wuujud simbol yang masing-masing mewakili kata. Perkembangan selanjutnya adalah tulisan yang dinamakan syllabary. Dalam sistem ini, suatu simbol tidak mewakili suku kata. Bahasa Jepang dan bahasa Jawa adalah contoh untuk tulisan syllabary.


2.      Grafem dan fonem.
            Grafem adalah keseluruhan dari huruf atau campuran huruf yang mewakili fonem. Maksudnya adalah grafem berbicara tentang huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambangan fonem dalam ejaan, sedangkan fonem berbicara tentang bunyi bahasa. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi", kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>, <u>, <r>, <s>, dan <i>, dan mengucapkannya pun /kursi/ - dari segi grafem ada lima satuan, dan dari segi fonem juga ada lima satuan, kata pagi terdiri dari fonem /p/, /a/, /g/, /i/ dan grafem <p>, <a>, <g>, <i>. Kata hangus terdiri dari fonem /h/, /a/, /ŋ/, /u/, /s/ dan grafem <h>, <a>, <ng>, <u>, <s>.
Meskipun grafem melambangkan fonem dalam sistem ejaan, ini tidak berarti bahwa satu grafem hanya bisa melambangkan satu fonem atau sebaliknya. Contohnya grafem <e>, melambangkan fonem /e/ pada <bela> dan /ə/ pada <reda>.[3]

3.      Elemen pada huruf.
            Kalau alfabet latin kita perhatikan dengan teliti maka akan kita dapati bahwa tiap huruf sebenarnya terdiri dari elemen-elemen yang sederhana yang diramu dengan berbagai cara. Huruf p, q, b, dan d hanya terdiri dari satu garis lurus dan setengah lingkaran. Perbedaan antara p dan q hanya terletak pada letak setengah lingkaran itu. Pada p setengah lingkaran ada di kanan garis, pada q di kiri garis. Begitu pula antara b dan d. Pada b setengah lingkarannya di kanan, dan d di kiri. Perbedaan antara p dan b hanyalah letak garis lurusnya : pada p garis lurusnya menjorok ke bawah, pada b menjorok ke atas.
            Bentuk huruf tidak selamanya sama. Satu hal yang jelas adalah bahwa bentuk huruf kapital dengan huruf kecil seperti A dan a, B dan b sangat berbeda. Tidak hanya itu saja, satu huruf yang sama bisa pula tertuang dalam wujud yang berbeda. Maka dari itu, Pembaca harus menyadari bahwa wujud yang berbeda-beda itu hanya merupakan gaya saja.

4.      Tahap dalam membaca.
            Empat tahap dalam berbahasa yang sampai kini masih dianggap benar adalah tahap mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis (listening, speaking, reading, writing). Dua tahap yang pertama berkaitan dengan bahasa lisan dan dua tahap terakhir dengan bahasa tulisan.
            Anak mulai berbahasa dengan mendengarkan lebih dahulu, barulah kemudian dia mulai berbicara. Dua tahap berikutnya yaitu membaca dan menulis yang mana bukanlah menjadi peryaratan hidup, karena tanpa dapat membaca dan menulis manusia masih saja tetap dapat mempertahankan hidupnya.
            Namun demikian, dalam masyarakat modern, membaca dan menulis merupakan bagian yang tidak dapat dikesampingkan karena tanpa kemampuan ini dunia kita akan tertutup dan terbatas hanya pada apa yang ada di sekitar kita.
            Dalam membaca, ada dua tahap utama yaitu
Ø Tahap pemula.
        Tahap pemula adalah tahap yang mengubah manusia dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca. Pada tahap pemula, anak perlu memperhatikan dua hal : keteraturan bentuk dan gabungan huruf.
Ø Tahap lanjut.
        Tahap lanjut adalah tahap dimana prosesnya bukan terkonsentrasi pada kaitan antara huruf dengan bunyi tetapi pada makna yang terkandung dalam bacaan.[4]

5.      Metode pengajaran membaca.
            Ada dua pandangan yang saling bertentangan mengenai proses membaca. Ada yang berpandangan bahwa proses membaca di mulai dari bawah (bottom up) ke atas. Dalam pandangan ini, representasi fonologi dari tiap kata diramu dengan menerapkan aturan mengenai hubungan antara grafem dengan fonem. dan ada juga pandangan yang dasarnya dari atas kebawah (top down). Cara ini tidak melibatkan fonologi tetapi langsung dari otografi ke makna.
            Perbedaan ke dua pandangan ini tercermin dalam metode pengajaran membaca. Mereka yang percaya pada Alur bawah-ke-Atas akan mendasarkan metodenya pada cara fonik,yakni dari fonem,ke suku, lalu ke kata. Sapai ke atas. Sebaliknya mereka yang mengikuti alur Atas-ke-Bawah langsung memberikan kata untuk dibaca-boat,road,goat.

6.      Model-model membaca
            Di dalam model untuk membaca juga ada yang namanya Model Atas-ke-Bawah dan Model Bawah-Ke-Atas yang di jelaskan di bawah ini.
a. Model Atas-ke-Bawah
        Model Atas ke bawah atau yang sering juga dinamakan model berdasarkan konteks, mengasumsikan bahwa informasi tentang konteks dalam secara langsung mempengaruhi caranya kata dipersepsi dan di interpretasi.
b. Model Bawah-ke-Atas
        Landasan dasar untuk model bawah-ke-atas, yang juga di sebut sebagai model yang berlandaskan stimulus, adalah bahwa rekognisi kata tergantung terutama pada informasi yang ada pada kata itu, bukan pada konteksnya. Di samping itu, rekognisi terjadi secara diskrit, berhierarkhi, dan bertahap. Informasi yang ada pada satu tahap dimanfaatkan untuk membangun tahap berikutnya. Karena itulah maka pada model ini ada pada tahap sensori, tahap rekognisi, dan tahap interpretasi.[5]


PENUTUP


A.    Kesimpulan.

1.      Sejarah mengenai tulisan dapat ditelusuri ke tahun 3100 sebelum Masehi pada bangasa Sumeria yang hidup di Mesopotamia purba di antara sungai Tigris dan Euphrates. Pada tahun 2000 S.M bangsa Cina mengembangkan ideogram, yaitu gambar-gambar yang menyimbolkan objek. Perkembangan selanjutnya adalah tulisan yang dinamakan syllabary. Dalam sistem ini, suatu simbol tidak mewakili suku kata. Bahasa Jepang dan bahasa Jawa adalah contoh untuk tulisan syllabary.
2.      Grafem berbicara tentang huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambangan fonem dalam ejaan, sedangkan fonem berbicara tentang bunyi bahasa. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi", kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>, <u>, <r>, <s>, dan <i>, dan mengucapkannya pun /kursi/ - dari segi grafem ada lima satuan, dan dari segi fonem juga ada lima satuan.
3.      Elemen pada huruf tidak selamanya sama. Maka dari itu, Pembaca harus menyadari bahwa wujud yang berbeda-beda itu hanya merupakan gaya saja.
4.      Tahap dalam membaca ada dua, yaitu tahap pemula dan tahap lanjut.





DAFTAR PUSTAKA

Soenjono Dardjowidjojo. 2003. PSIKOLINGUISTIK : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.




[1] Soenjono Dardjowidjojo, PSIKOLINGUISTIK : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm.291.
[2] Soenjono Dardjowidjojo, PSIKOLINGUISTIK : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm.291.
[3] Soenjono Dardjowidjojo, PSIKOLINGUISTIK..., (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm.297.
[4] Soenjono Dardjowidjojo, PSIKOLINGUISTIK..., (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm.299-303.
[5] Soenjono Dardjowidjojo, PSIKOLINGUISTIK..., (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm.307-308.

Tips Jitu Belajar Bahasa Arab yang Menyenangkan Dalam rangka pembekalan Musyrif/ah dan pengurus Mabna periode 2018/2019, Ma’had Ja...